Ketua HNSI Berau Suriadi Marzuki (tengah), didampingi Bupati Berau Sri Juniarsih (kanan) dan Sekretaris HNSI Kaltim Hasrun Jaya (Kiri)
HNSI Berau Dukung Gerakan Pasar Ikan Murah, Dorong Penguatan PPI Sambaliung dan Fasilitas Perikanan
Ketua HNSI Berau Suriadi Marzuki mendukung Gerakan Pasar Ikan Murah di PPI Sambaliung untuk menyediakan ikan segar murah dan memperkuat sektor perikanan daerah.
MADANIKA.ID, Berau — Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Berau mendukung pelaksanaan Launching Gerakan Pasar Ikan Murah yang digelar di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Sambaliung, Sabtu (16/5/2026).
Kegiatan tersebut diisi dengan bazar ikan segar dan produk UMKM. Selain itu, agenda ini juga menjadi momentum untuk mengaktifkan kembali fungsi PPI Sambaliung sebagai pusat aktivitas perikanan masyarakat.
Ketua HNSI Kabupaten Berau, Suriadi Marzuki, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dihadiri sejumlah unsur pemerintah dan masyarakat, mulai dari Bupati Berau, Forkopimda, asisten Pemda, staf ahli, beberapa kepala dinas, camat, lurah, tokoh masyarakat, Kepala Dinas Perikanan, hingga jajaran HNSI Berau.
Gerakan “Nelayan Berbagi”

Menurut Suriadi, kegiatan ini dicetuskan oleh Kepala PPI Sambaliung, Fredrik Sibulo, dengan melibatkan para nelayan yang tergabung dalam HNSI Berau. Gerakan tersebut kemudian diberi tajuk “Nelayan Berbagi”.
“Manfaatnya sangat besar bagi masyarakat. Di saat beberapa bahan pokok sudah mulai beranjak naik harganya, kita hadir memberi ikan segar dengan harga yang jauh lebih murah dari pasar dan lebih segar,” ujar Suriadi.
Ia menambahkan, gerakan pasar ikan murah tidak hanya membantu masyarakat mendapatkan ikan dengan harga terjangkau, tetapi juga memberi ruang bagi nelayan untuk berkontribusi langsung terhadap program pemerintah.
Kontribusi tersebut terutama berkaitan dengan ketahanan pangan, pencegahan stunting, serta upaya pengendalian inflasi daerah.
Ikan Langsung dari Kapal Nelayan
Suriadi menyebut masyarakat sangat terbantu dengan adanya kegiatan ini karena ikan yang dijual berasal langsung dari kapal nelayan. Dengan begitu, masyarakat dapat memperoleh ikan yang lebih segar dengan harga lebih murah dibandingkan harga pasar.
“Karena ikan yang terjual memang langsung dari kapal,” jelasnya.
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya keberadaan PPI Sambaliung sebagai ruang distribusi hasil tangkapan nelayan yang dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Kuota BBM Nelayan Masih Jadi Persoalan
Di sisi lain, Suriadi juga menyoroti sejumlah persoalan yang masih dihadapi nelayan. Salah satu isu utama adalah kuota BBM nelayan yang dinilai belum terpenuhi dengan baik.
Menurutnya, kebutuhan BBM menjadi faktor penting dalam menunjang aktivitas melaut. Jika akses BBM nelayan terganggu, maka aktivitas penangkapan ikan juga berpotensi ikut terdampak.
Terkait fluktuasi harga ikan, Suriadi mengatakan nelayan Berau sudah cukup terbiasa menghadapi kondisi harga yang turun ketika hasil tangkapan melimpah. Hal ini karena pasar ikan Berau tidak hanya bergantung pada kebutuhan lokal, tetapi juga menjangkau sejumlah daerah lain.
Hasil perikanan Berau selama ini juga dikirim ke Balikpapan, Samarinda, Bontang, Sangatta, hingga Kalimantan Utara.
Potensi Ekspor Dinilai Besar
Suriadi menilai sektor perikanan Berau memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan, termasuk untuk pasar ekspor. Sejumlah hasil tangkapan nelayan Berau bahkan disebut telah menembus pasar beberapa negara di Asia.
“Potensinya sangat besar, bahkan sudah banyak hasil nelayan Berau yang sampai ke beberapa negara di Asia,” ungkapnya.
Namun, agar potensi tersebut dapat berkembang lebih maksimal, HNSI Berau berharap pemerintah daerah memberi dukungan lebih kuat terhadap sarana dan prasarana pendukung perikanan.
Dukungan yang dibutuhkan antara lain pembangunan pabrik es, cold storage, serta fasilitas penunjang distribusi hasil perikanan.
Distribusi Udara Jadi Tantangan
Selain fasilitas penyimpanan, Suriadi juga menyoroti persoalan distribusi, khususnya pengiriman hasil perikanan melalui jalur udara.
Menurutnya, distribusi melalui udara masih menjadi tantangan karena biaya kargo yang mahal serta jadwal penerbangan yang belum sepenuhnya mendukung kebutuhan pengiriman hasil perikanan.
“Terutama kelancaran pendukung utama yakni pengiriman lewat udara yang saat ini dirasakan sangat berat. Di samping biaya kargo yang mahal, juga ketersediaan jadwal penerbangan yang sesuai,” pungkasnya.
Melalui Gerakan Pasar Ikan Murah dan penguatan fungsi PPI Sambaliung, HNSI Berau berharap sektor perikanan dapat semakin memberi manfaat bagi masyarakat, memperkuat ekonomi nelayan, serta mendukung ketahanan pangan daerah.
Ikuti Kami