Admin Madanika
Madanika tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga berperan aktif dalam membangun masyarakat yang cerdas dan berintelektual.
Deni Irvani Direktur Eksekutif SMRC Saat Memaparkan Hasil Risetnya
Studi Princeton University dan SMRC menemukan Gen-Z menjadi generasi paling banyak mengalami gangguan kesehatan mental dan emosional di Indonesia.
MADANIKA.ID, Jakarta — Generasi Z (Gen-Z) menjadi kelompok usia yang paling banyak mengalami gangguan kesehatan mental dan emosional. Hal tersebut terungkap dalam studi terbaru yang dilakukan oleh Princeton University, Amerika Serikat, bekerja sama dengan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Temuan penelitian tersebut dipresentasikan melalui kanal YouTube SMRC TV pada Minggu (15/3/2026) dalam rilis survei bertajuk “Efek Media Sosial terhadap Kesehatan Mental.”
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menyampaikan bahwa secara umum sebagian besar responden menilai kondisi kesehatan mental mereka masih dalam kategori baik.
“ada 10 persen warga yang mengaku mengalami kesehatan mental dan emosional yang buruk atau sangat buruk. Ada 90 persen yang menyatakan cukup baik atau sangat baik.”
Namun jika dilihat berdasarkan kelompok usia, Gen-Z tercatat sebagai kelompok yang paling banyak melaporkan gangguan kesehatan mental dan emosional.
Deni menjelaskan bahwa generasi yang lahir setelah tahun 1997 memiliki persentase tertinggi dibanding kelompok generasi lainnya.
“Gen-Z yang lahir setelah 1997 paling banyak mengalami gangguan kesehatan mental dan emosional (16 persen). Sementara generasi millenial (lahir 1981-1996) 8 persen, Gen-X (lahir 1965-1980) 7 persen, dan Boomers+ (lahir sebelum 1965) 7 persen.”
Deni memaparkan bahwa survei ini menggunakan metode eksperimental terhadap populasi pengguna media sosial di 30 ibu kota provinsi di Indonesia.
Dalam penelitian tersebut, sebanyak 1.502 responden dipilih secara acak menggunakan metode stratified multistage random sampling. Para responden kemudian diwawancarai secara daring sebanyak dua kali dalam bentuk panel.
Wawancara pertama dilakukan ketika responden menjalankan aktivitas media sosial seperti biasa. Setelah itu, responden dibagi secara acak ke dalam tiga kelompok eksperimen.
Kelompok pertama (T1) diminta menghentikan penggunaan media sosial setelah wawancara pertama hingga wawancara kedua. Kelompok kedua (T2) diminta menghentikan penggunaan media sosial bersama seluruh anggota rumah tangga mereka. Sementara kelompok ketiga menjadi kelompok kontrol yang tetap menggunakan media sosial seperti biasa.
Selang waktu antara wawancara pertama dan kedua adalah satu bulan. Wawancara pertama dilakukan pada 17 November hingga 15 Desember 2025, sedangkan wawancara kedua dilaksanakan pada 16 Desember 2025 hingga 14 Januari 2026.
Penelitian ini didanai oleh Princeton University sebagai bagian dari kajian mengenai pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental masyarakat.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media sosial menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam memahami dinamika kesehatan mental generasi muda di era digital.
Ikuti Kami