__temp__ __location__
Semakmur Banner
`
Herdika–Puput Hadirkan Semangat “Ruang Kita untuk FKIP” di Pemira FKIP UNMUL 2025

Muhammad Herdika dan Puput Dwi Wahyuni membawa semangat kolaborasi dan keterbukaan dalam visi “Ruang Kita untuk FKIP” di ajang Pemira BEM FKIP UNMUL 2025.

Herdika–Puput Hadirkan Semangat “Ruang Kita untuk FKIP” di Pemira FKIP UNMUL 2025

Pasangan Muhammad Herdika dan Puput Dwi Wahyuni membawa semangat “Ruang Kita untuk FKIP” di Pemira FKIP UNMUL 2025 dengan visi kolaboratif, inklusif, dan edukatif.

MADANIKA.ID SAMARINDA — Semangat demokrasi tengah bergelora di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman. Melalui momentum Pemilihan Raya (Pemira) BEM FKIP UNMUL 2025, mahasiswa kembali diberikan ruang untuk menentukan arah kepemimpinan lembaga eksekutif tingkat fakultas.

Salah satu pasangan yang mencuri perhatian dalam kontestasi ini adalah Muhammad Herdika dan Puput Dwi Wahyuni, yang mengusung gagasan bertajuk “Ruang Kita untuk FKIP”  narasi yang menekankan pentingnya kolaborasi, kebersamaan, dan ruang aspirasi terbuka bagi seluruh mahasiswa.

Pasangan ini dikenal aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan dan hadir dengan energi baru, membawa visi kepemimpinan yang inklusif, sinergis, dan berorientasi pada penguatan nilai-nilai akademik di FKIP UNMUL.


Muhammad Herdika: Membangun BEM yang Kolaboratif dan Representatif

Lahir di Muara Muntai pada 14 Agustus 2005, Muhammad Herdika merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani FKIP UNMUL angkatan 2023. Sosoknya dikenal aktif di organisasi, mulai dari Kepala Departemen Kaderisasi HIMAPENJAS 2024/2025, Ketua Samba Penjas 2024, hingga Staf Kementerian KPOSDM BEM KM UNMUL 2025.

Dalam wawancara, Herdika menegaskan bahwa keputusannya maju bukan didorong ambisi pribadi, melainkan lahir dari kegelisahan terhadap kondisi kolaborasi antarlembaga di FKIP yang dinilai masih lemah.

“Keinginan saya untuk maju berangkat dari keresahan kawan-kawan di FKIP UNMUL,” ujarnya.
“FKIP tersebar di tiga wilayah, Banggeris, Gunung Kelua, dan Pahlawan. Dari banyak diskusi dengan teman-teman lembaga, saya menangkap keresahan soal lemahnya kolaborasi. Padahal BEM seharusnya menjadi wadah yang merangkul, bukan berjalan sendiri,” lanjutnya.

Dari situ lahirlah gagasan besar “Ruang Kita untuk FKIP”, konsep kepemimpinan yang menempatkan mahasiswa sebagai pusat perubahan.

“Kami ingin menjadikan BEM FKIP sebagai rumah besar, tempat setiap mahasiswa punya hak bersuara, ruang untuk berkolaborasi, dan tempat untuk tumbuh bersama. BEM tidak boleh eksklusif. Kami ingin BEM yang inklusif, terbuka, adaptif, dan dekat dengan mahasiswa,” tegas Herdika.

Dalam visinya, Herdika berkomitmen menjadikan BEM FKIP UNMUL sebagai ruang kolaboratif, representatif, dan edukatif bagi seluruh mahasiswa. Ia merumuskan tiga misi utama:

  1. Ruang Sinergi – mendorong aksi nyata yang berdampak pada karya dan pengabdian mahasiswa.
  2. Ruang Inklusif – menyediakan wadah partisipatif untuk advokasi mahasiswa.
  3. Ruang Taut – memperluas jejaring BEM FKIP UNMUL dengan pihak eksternal, akademik, sosial, dan pemerintahan.

Salah satu program unggulannya adalah “FKIP Pers”, platform digital yang akan menampung karya tulis dan dokumentasi kegiatan mahasiswa.

“FKIP Pers bukan sekadar media informasi, tapi ruang ekspresi. Kami ingin setiap lembaga dan mahasiswa punya wadah untuk menunjukkan identitas dan produktivitasnya,” kata Herdika.

 

Puput Dwi Wahyuni: Suara Perempuan dalam Kepemimpinan FKIP

Bersanding dengan Herdika, Puput Dwi Wahyuni hadir membawa warna baru dalam kepemimpinan mahasiswa. Mahasiswi asal Berau ini lahir pada 4 Agustus 2005 dan kini menempuh studi di Program Studi Pendidikan Fisika FKIP UNMUL angkatan 2023.

Puput dikenal aktif sebagai Duta Sadar Hukum Kota Samarinda 2023, Duta Anti Perundungan 2023, dan Duta Pelopor Keselamatan Lalu Lintas 2022/2023. Selain itu, ia juga menjadi Bina Damping Masa Pengenalan Mahasiswa Baru (MPMB) FKIP UNMUL selama dua tahun berturut-turut.

“Selama dua tahun di FKIP, saya belum melihat perempuan ambil peran dalam kepemimpinan BEM. Padahal di tingkat himpunan, banyak perempuan yang sudah aktif. Saya merasa perlu hadir untuk membuka jalan, agar perempuan di FKIP berani mengambil peran di ruang pengambilan keputusan,” ujarnya.

Puput meyakini bahwa kepemimpinan sejati tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kemampuan mendengar dan berempati.

“Saya ingin menghadirkan kepemimpinan yang berempati dan komunikatif. Kami ingin membangun BEM yang benar-benar merepresentasikan seluruh suara mahasiswa, baik laki-laki maupun perempuan, dari setiap program studi,” tambahnya.

 

Dari Keresahan Menuju Gerakan Kolektif

Pasangan Herdika–Puput menjalankan kampanye dengan pendekatan dialogis dan terbuka, menyerap aspirasi langsung dari mahasiswa di tiga wilayah FKIP.

“Kami tidak ingin sekadar menang di Pemira. Kami ingin menghadirkan budaya baru, budaya kolaborasi, di mana BEM bukan menara gading, tapi sahabat bagi seluruh lembaga dan mahasiswa,” ujar Herdika.

“Kami ingin setiap mahasiswa merasa punya andil dalam arah gerak BEM. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah, semua sama-sama bagian dari FKIP yang besar,” tambah Puput.

Meski proses Pemira FKIP UNMUL 2025 masih berlangsung, pasangan Herdika–Puput dinilai membawa harapan baru. Mereka menghadirkan karakter kepemimpinan muda yang visioner, komunikatif, dan solutif, serta membuka ruang dialog yang lebih luas di FKIP UNMUL.

“Kami percaya, ruang untuk tumbuh selalu ada. Tinggal bagaimana kita mengisinya dengan kerja nyata, bukan sekadar janji,” tutup Herdika.

Survei: 66,4 Persen Publik Indonesia Tidak Yakin Pemerintah Iran Bunuh Warganya Sendiri
Survei: 66,4 Persen Publik Indonesia Tidak Yakin Pemerintah Iran Bunuh Warganya Sendiri
Isu Penghapusan Benkeu 2027 Mencuat, Wali Kota Samarinda Minta Pemprov Kaltim Tidak Mengosongkan
Isu Penghapusan Benkeu 2027 Mencuat, Wali Kota Samarinda Minta Pemprov Kaltim Tidak Mengosongkan